Pengertian dan Sejarah Permainan Catur

Catur adalah permainan asah otak yang dimainkan oleh dua orang menggunakan alat bantu sebuah papan persegi yang terbagi menjadi 64 kotak, disusun dalam petak 8×8, dengan 32 buah catur. Sebelum bertanding, dua pecatur harus memilih warna buah catur yang akan dimainkan, antara hitam dan putih.

Pemegang yang berwarna putih memulai langkah pertama, yang selanjutnya diikuti oleh buah catur berwarna hitam secara bergantian sampai permainan selesai. Masing-masing pecatur memiliki 16 buah catur dengan bentuk dan nama yang berbeda untuk dimainkan, satu raja, satu menteri, dua benteng, dua kuda, dua gajah, dan delapan pion. Adapun tujuan permainan catur adalah memenangkan permainan dengan menangkap raja lawan dengan cara mengancam raja lawan sampai tidak dapat lari lagi atau tidak dapat dibela lagi atau istilahnya skak.

Istilah kata catur diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti “empat”. Namun, kata ini sebenarnya singkatan dari “caturangga”, yang berarti empat sudut. Catur bisa dimainkan oleh siapa pun, tak pandang usia, jenis kelamin, dan strata sosial. Itulah sedikit gambaran secara umum apa itu permainan catur. Setelah mengetahui pengertian dari permainan catur, kamu perlu mempelajari juga sejarahnya. Bagaimana sejarah atau asal usul permainan catur?

Berikut ini rangkuman mengenai sejarah permainan catur, dilansir dari laman Dosenpenjas dan Materiolahraga, Kamis (16/2/2023).

Sejarah Permainan Catur Secara Umum

Permainan catur menurut sebagian besar sejarawan berasal dari India pada abad kelima atau keenam. Bentuk catur yang paling awal diketahui adalah chaturanga, berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya “empat unsur yang terpisah”, karena memang di India kuno permainan catur dimainkan oleh empat peserta yang berada di empat sudut yang berbeda.

Menurut mistisisme India kuno, catur dianggap mewakili alam semesta sehingga sering dihubungkan dengan empat unsur kehidupan yaitu api, air, udara, dan tanah karena dalam permainan catur menyimbolkan cara-cara hidup manusia.

Baca Juga : Pengertian Serta Sejarah Olahraga Karate Hingga Kini

Dari India, chaturanga menyebar dengan cepat ke Persia, yang lantas disebut chatrang. Ketika orang-orang Arab menginvasi Persia pada abad ketujuh, mereka menyebutnya shatranj dan mempopulerkannya ke seluruh dunia Arab. Chaturanga juga kemungkinan nenek moyang dari game strategi Timur xiangqi (catur China), janggi (catur Korea), dan shogi (catur Jepang).

Pada abad ke delapan, ketika bangsa Arab menyebarkan Islam ke Spanyol, catur mulai menyebar ke daratan Eropa hingga ke Jerman, Italia, Belanda, Inggris, Irlandia, dan Rusia. Masuk ke tanah Eropa, permainan catur makin meningkat. Banyak pertandingan dan turnamen diadakan dengan frekuensi yang lebih besar. Dengan tersebar luasnya permainan catur secara global, peraturan-peraturan dalam catur yang mulai dibentuk sejak abad pertengahan dan terus dimodifikasi sampai awal abad ke-19.

Kini, peraturan-peraturan tersebut ditetapkan oleh badan pemerintahan catur internasional FIDE (Federation Internationale des Echecs) atau World Chess Federation, yang dibentuk tanggal 20 Juli 1924 dan bermarkas di Lausanne, Swiss.

Sejarah Catur di Indonesia

Dalam perjalanannya, permainan catur masuk ke Indonesia, kebanyakan hanya orang-orang Belanda yang senang bermain catur. Namun, pada akhir abad ke-19 mulai bermunculan klub-klub catur di Surabaya, Magelang, Yogyakarta, dan Bandung.

Pada 1915, berdiri Nederlandsch Indische Schaakbond (NISB) atau Perkumpulan Catur Belanda-Indonesia di Yogyakarta. NISB merupakan perkumpulan catur pertama di Indonesia dan juga merupakan cikal bakal terbentuknya Percasi.

Sekitar tahun 1938 sampai pecah perang dunia kedua, jumlah penggemar permainan catur dari kalangan orang Indonesia makin meningkat, bahkan melebihi jumlah orang-orang Belanda (Eropa) yang berada di Indonesia.

Kegiatan catur di Indonesia sempat berhenti total ketika Jepang mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Usai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945, aktivitas bermain catur kembali muncul, terutama di Pulau Jawa seperti di Solo, Yogyakarta, dan Magelang.